Selasa, 28 April 2015

PENGARUH PENAMBAHAN LIMBAH KULIT PISANG DALAM BENTUK TEPUNG TERHADAP KARKAS AYAM PEDAGING (BROILER)

TUGAS ARTIKEL METODOLOGI PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH “PENGARUH PENAMBAHAN LIMBAH KULIT PISANG DALAM BENTUK TEPUNG TERHADAP KARKAS AYAM PEDAGING (BROILER)”
Disusun Oleh: 1. Rachmad Dani 125050100111014 2. Yani Ambarsari 125050100111035 3. Ramsiah Ramdini 125050100111038 Kelas A Dosen Pengampu: Dr. Ir. Gatot. Ciptadi, DESS FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2014 PENGARUH PENAMBAHAN LIMBAH KULIT PISANG DALAM BENTUK TEPUNG TERHADAP KARKAS AYAM PEDAGING (BROILER) Rachmad Dani, Yani Ambarsari, dan Ramsiah Ramdini Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan limbah kulit pisang pisang terhidrolisis dengan NaOH dan kulit pisang yang difermentasi dengan Rhyzopus oligosporus dalam ransum terhadap bobot potong, berat dan persentase karkas, konsumsi pakan dan kolesterol dalam dada. Hasil percobaan menunjukan, bahwa penambahan limbah kulit pisang fermentasi (LKPF) ke dalam ransum membuat bobot potong, berat dan persentase karkas mengalami penurunan. Kuat dugaan terhambatnya pertumbuhan anak ayam akibat dari tingginya kandungan serat kasar dalam LKPF yang tidak mampu tercerna oleh ayam, konsumsi pakan tidak mengalami penurunan atau peningkatan. Sedangkan kulit pisang terhidrolisis dengan NaOH terhadap kolesterol dalam dada belum berpengaruh nyata. Kata Kunci : Kulit Pisang, Fermentasi, NaOH, Karkas, Kolesterol PENDAHULUAN Usaha petemakan ayam pedaging telah berkembang dengan baik di Indonesia, tetapi memiliki permasalahan yaitu sering terjadi fluktuasi harga dari pendukung produk khususnya harga ransum sehingga menciptakan instabilitas dalam industri perunggasan . Tingginya harga pakan komersial, disebabkan karena sebagian besar bahan baku ransum unggas masih diimpor . Siregar dkk. (1980), menyatakan bahwa biaya ransum merupakan biaya produksi yang terbesar sekitar 60 % - 70 % dibandingkan dengan biaya produksi lainnya dalam satu kali produksi usaha ternak ayam pedaging . Tingginya harga ransum menyebabkan peternak menjadi kesulitan untuk memperoleh keuntungan, oleh sebab itu perlu diupayakan untuk mencari bahan pakan alternatif yang murah tetapi tetap berkualitas . Peluang yang ada adalah melalui pemanfaatan limbah pertanian yang banyak tersedia, dengan karakteristik memiliki kandungan serat kasar yang tinggi dan protein kasar yang rendah. Dengan memanfaatkan teknologi pakan, gizi Iimbah pertanian yang rendah diupayakan untuk ditingkatkan kandungan nutrisinya sehingga layak sebagai bahan campuran ransum ternak . Salah satu jenis limbah pertanian yang tersedia adalah Iimbah kulit pisang, yang merupakan Iimbah dari pengolahan pisang untuk dibuat kripik dan pisang sele . Udjianto, (2003) melaporkan, bahwa Iimbah kulit pisang berpeluang untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak melalui bio proses fermentasi . Setelah melalui bio proses fermentasi menggunakan probiotik, nutrien Iimbah kulit pisang dapat ditingkatkan nilai gizinya dan layak untuk diberikan pada ternak khususnya ternak ruminansia Tanaman Pisang (Musaceaea sp) merupakan tanaman penghasil buah yang banyak terdapat di Indonesia. Buahnya banyak disukai untuk dikonsumsi secara langsung sebagai buah atau diolah menjadi produk konsumsi lain sepert sale pisang, kripik pisang, selai pisang, dan lain sebagainya. Namun hal ini tidak diimbangi dengan pengolahan limbah dari kulit pisang yang sangat banyak jumlahnya. Limbah ini banyak terdapat di daerah-daerah yang memproduksi keripik dan sale pisang. Limbah ini masih tidak bisa dimanfaatkan oleh penduduk sekitar, melainkan hanya sebagai limbah tak berguna. Kandungan nutrisi kulit pisang sangat berpotensi sekali sebagai sumber karbohidrat yang baik untuk semua fase kehidupan ternak. Kandungan karbohidrat terutama bahan ekstrak tanpa nitrogen sebesar 66,20 % (Heruwatno, dkk. 1993) dan masih mengandung selulosa dan hemiselulosa sebesar 40 % dari total serat kasar yang dikandungnya (Parakkasi, 1990) dengan kandungan serat kasar kulit pisang sebesar 13 % (Gohl, 1981). Hernawan (2012) bahwa kulit pisang mengandung protein kasar 10,09%, serat kasar 18,01%, lemak 5,17%, calcium 0,36% dan Phospor 0,10% dan gross energi 3727 kkal/kg. Koni et al., (2006) mengemukakan bahwa rataan bobot kulit pisang kepok berkisar 25-40% dari bobot buah pisang, Terbatasnya pemanfaatan kulit pisang sebagai bahan ransum unggas karena rendahnya kandungan protein kasar dan tingginya kandungan serat kasar. Karena itu perlu adanya upaya perbaikan kandungan nutrisi tersebut agar pemanfaatannya dalam ransum unggas semakin tinggi. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satu di antaranya dengan proses fermentasi Fermentasi dapat meningkatkan kandungan protein kasar dan menurunkan kandungan serat kasar (Supriyati et al., 1998), selain itu menurut (Yamin, 2008) bahwa fermentasi dapat memperbaiki nilai efisiensi ransum pada ayam ayam pedaging. Sukaryana et al., (2011) melaporkan bahwa fermentasi dapat meningkatkan kecernaan baik kecernaan protein maupun serat kasar. Salah satu inokulum yang digunakan dalam proses fermentasi adalah jamur Rhyzopus oligosporus. Udjianto et al., (2005) melaporkan bahwa peningkatan protein kulit pisang yang difermentasi dengan probitik sebesar 127%. Sebelum fermentasi protein kasar 6,56% meningkat menjadi 14,88% setelah difermentasi. Penggunaan R. oligosporus dapat meningkatkan protein kasar bekatul serta menurunkan kadar lemak dan kolesterol daging ayam arab (Sujono, 2001). Berdasarkan uraian tersebut maka penelitian dilakukan untuk mengkaji tingkat penggunaan kulit pisang hasil fermentasi dengan R. oligosporus yang dapat memberikan pertumbuhan yang terbaik pada ayam ayam pedaging. METODE PENELITIAN Dengan Menggunakan Fermentasi Penelitian ini dilakukan selama 6 minggu dengan menggunakan 20 ekor DOC broiler yang dipelihara dalam satu kandang (dalam kandang kelompok) yang diberi pakan ransum yang disusun berdasarkan kebutuhan zat makanan untuk ayam pedaging (broiler) dan minum secara ad libitum, penimbangan bobot badan dilakukan setiap minggu per individu atau per ekor. Variabel yang diamati adalah bobot hidup, bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, dan bobot lemak abdominal. Dua minggu sebelum penelitian, dilakukan pembersihan dan pengapuran lantai kandang serta fumigasi dengan menggunakan antiseptik dan pencucihamaan peralatan kandang dengan antiseptik. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah baskom, ember, alat penggukus, plastik pembungkus, lampu pijar 15 watt, tempat makan dan minum, termometer, serta timbangan. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah DOC, ransum yang sesuai dengan kebutuhan ayam pedaging (broiler), kulit pisang yang akan dijadikan tepung (mash), dan ragi tempe (Rhizopus oligosporus). Langkah-langkah dalam proses fermentasi yaitu pemilihan kulit pisang, digunakan yang sudah matang, ditandai dengan kulit buah berwarna kuning. Kulit pisang yang telah dipilih, dicuci dengan air bersih, kemudian dipotong ± 5 cm. Selanjutnya kulit yang telah dipotong dikukus menggunakan alat pengukus, selama ± 15 menit dihitung setelah air mendidih. Pengukusan berfungsi untuk mematikan patogen pada kulit pisang. Kulit pisang yang telah dikukus ditebarkan diatas nampan dan diangin-anginkan, setelah dingin dicampur ragi hingga homogen, sebanyak 3 gram untuk setiap kg kulit pisang. Kemudian dibungkus dengan kantong plastik. Pengisian ke kantong plastik tidak padat agar jamur dapat bertumbuh dengan optimum. Plastik dilubangi agar uap air yang dihasilkan dapat keluar. Kulit pisang disimpan pada suhu kamar selama 48 jam. Kulit pisang yang telah difermentasi ini kemudian dikeringkan dan dihaluskan sebelum dicampur pada bahan pakan lainnya. Setiap kali pencampuran ransum dialokasikan untuk persediaan selama ±10 hari. (Koni, dkk. 2013) Pada akhir masa pemeliharaan diambil sampel sebanyak dua ekor. Ayam dipuasakan selama 12 jam sebelum dipotong, kemudian ditimbang untuk memperoleh bobot hidup. Ayam yang telah dipotong dicelupkan ke dalam air bersuhu ± 70oC selama ± 2 menit untuk mempermudah dalam pencabutan bulu, kemudian dipisahkan kepala, leher, shank dan jeroan. Karkas tersebut ditimbang dan dihitung persentasenya. Kemudian dilakukan pemisahan lemak abdominal dan ditimbang. (Koni. 2013) Dengan Menggunakan NaOH Pembuatan tepung kulit pisang tidak berbeda jauh dari pembuatan tepung sorgum. Perbedaan hanya terdapat pada pemotongan kulit pisang sebelum dilakukan perendaman NaOH dan diperlukan waktu pengeringan kulit lebih lama yaitu berkisar 3 hari pada sinar matahari dengan paparan sinar selama 6 jam. Pemotongan kulit pisang bertujuan untuk memperkecil permukaan kulit pisang sehingga mempermudah pengeringan kulit pisang selain itu memudahkan dalam perendaman NaOH. (Zahra, dkk. 2014) HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian dilakukan dari beberapa macam pisang, berdasarkan data dari Joni. T (2009) untuk pisang gepok rataan bobot akhir, bobot karkas, persentase karkas, konsumsi pakan dan kolesterol dalam dada broiler percobaan disajikan pada Tabel 3. Baik bobot potong, bobot karkas, persentase karkas maupun kolersterol dalam dada cenderung menurun dengan naiknya komponen kulit pisang fermentasi dalam ransum, serta kadar kolesterol dalam karkas broiler cenderung tidak member pengaruh. Bobot potong Hasil penelitian menunjukkan bahwa kulit pisang fermentasi menurunkan bobot potong ayam broiler umur 42 hari. Berdasarkan persentase angka penurunan itu adalah 4,41; 13,97 dan 15,67% pada masing-masing penggunaan kulit pisang fermentasi dan 15%. Penurunan bobot potong ini disebabkan karena rendahnya pertambahan bobot badan Soeparno (1998) menyatakan bahwa bobot potong dipengaruhi oleh pertambahan bobot badan dan umur ternak, sedangkan pertambahan bobot badan dipengaruhi oleh asupan nutrien. Rendahnya bobot potong ini sejalan dengan penurunan konsumsi ransum, dengan menurunnya konsumsi ransum pada asupan nutrien bagi ayam. Fermentasi dapat meningkatkan kualitas bahan asalnya, seperti meningkatkan kandungan protein kasar, asam amino dan vitamin, serta menurunkan kandungan serat kasar, yang pada akhirnya meningkatkan nilai kecernaan (Sukaryana et al. 2011). Fermentasi kulit pisang oleh Rhyzopus oligosporus dapat meningkatkan kandungan protein kasar sebesar 46,28% (dari 3,63 menjadi 22,15) dan menurunkan kandungan serat kasar sebesar dari 18,71 menjadi 15,75% (Koni, 2009). Bobot karkas Penggunaan kulit pisang fermentasi 15% dalam ransum mempunyai bobot karkas yang paling rendah daripada ketiga perlakuan lainnya hal ini disebabkan karena pada perlakuan 15% kulit pisang fermentasi, pertambahan bobot badan terendah yang pada akhirnya menghasilkan bobot potong rendah dan diikuti oleh bobot karkas yang rendah juga, dengan meningkatnya penggunaan kulit pisang fermentasi maka makin tinggi penurunan bobot karkas. Hal ini karena penurunan pertambahan bobot badan dan bobot potong, yang disebabkan karena penurunan konsumsi ransum (Tabel 3). Hal ini sesuai dengan pendapat Soeparno (1998) bahwa tinggi rendahnya bobot karkas sangat dipengaruhi bobot badan ternak, semakin tinggi bobot badan ternak maka bobot karkas makin tinggi. Shahin dan Elazeem (2005) menyatakan bahwa ransum yang mengandung serat kasar yang lebih tinggi menurunkan bobot karkas dan dibandingkan dengan ransum yang memiliki serat kasar yang lebih rendah. Persentase bobot karkas Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kulit pisang fermentasi hingga level 15% tidak berpengaruh nyata (P > 0,05) terhadap persentase karkas broiler, walaupun pengaruhnya nyata terhadap bobot potong dan bobot karkas (P < 0,05). Kemungkinan besar hal ini dipengaruhi bobot komponen non karkas. Persentase karkas pada penggunaan kulit pisang fermentasi hingga 10% berada pada kisaran yang dikemukakan Mahfudz et al. (2008) yaitu berkisar 65-75% dari bobot hidupnya. Persentase karkas pada penggunaan 10% kulit pisang fermentasi ini lebih tinggi daripada hasil penelitian Widjiastuti dan Hernawan (2012) yang melaporkan bahwa penggunaan kulit pisang 10% mempunyai persentase karkas 65,80%. Konsumsi Pakan Penggunaan kulit pisang fermentasi hingga 15% dalam ransum ayam pedaging tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap konsumsi ransum ayam pedaging. Penggunaan kulit pisang fermentasi dalam ransum tidak menyebabkan peningkatan atau penurunan konsumsi ransum secara nyata pada ayam percobaan. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian Udjianto et al., (2005) yang melaporkan bahwa tidak ada perbedaan nyata pada konsumsi ayam pedaging yang diberi kulit pisang yang difermentasi dengan probiotik. Konsumsi yang tidak berbeda nyata pada ayam percobaan ini disebabkan karena kandungan energi ransum yang relatif sama. Amrullah (2004) mengemukakan bahwa kandungan energi ransum sangat memengaruhi jumlah konsumsi ransum, semakin tinggi energi ransum semakin rendah konsumsi ransum, dan faktor yang juga memengaruhi jumlah konsumsi ransum adalah ternak, lingkungan fisik, dan pakan. Faktor ternak yang memengaruhi ada-lah tipe ayam, umur, status fisiologi. Lingkungan fisik yang berpengaruh adalah temperatur udara. Faktor pakan yang berpenga-ruh selain seperti kandungan energy ransum, serat kasar, palatabilitas, lemak kasar, bentuk fisik ransum, aroma, dan warna. Kandungan serat kasar ransum perlakuan berkisar antara 5,17-5,41%. Keadaan ini memperlihatkan pula bahwa pada kisaran serat kasar tersebut, konsumsi ransum relatif sama pada ayam percobaan. Unggas masih dapat mentolerir serat kasar sampai pada tingkat delapan persen dan untuk fase starter kurang dari enam persen, bila lebih tinggi maka daya cerna ransum tersebut makin rendah. Kandungan serat kasar ransum perlakuan berada pada level yang masih dapat ditolerir oleh ayam pedaging percobaan. Tingginya kandungan serat kasar dengan semakin tingginya kulit pisang fermentasi dalam ransum disebabkan oleh adanya miselium pada R. oligosporus yang sama sifatnya dengan serat kasar pada tumbuhan tingkat tinggi (Utama et al., 2007) Kolesterol dalam dada Kandungan lemak dalam ransum mempengaruhi deposisi lemak dalam tubuh. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian pakan perlakuan yang telah direndam NaOH 0,1 N selama 15 menit tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap lemak daging pada semua perlakuan. Semakin meningkat kadar lemak dalam ransum tidak diikuti meningkatnya deposisi lemak dalam tubuh. Deposisi lemak salah satunya dipengaruhi oleh absobsi lemak. Semakin meningkatnya lemak dalam ransum yang diikuti semakin meningkatnya serat dalam ransum dapat mengakibatkan penyerapan nutrisi kurang optimal, termasuk penyerapan lemak. Hidrolisis tannin menggunakan NaOH mampu menurunkan tanin berkisar 80%. Kandungan tanin dalam ransum berkisar 0,24-0,47% belum mempengaruhi kandungan lemak dalam daging dada. Semakin meningkatnya serat kasar mengakibatkan semakin rendahnya energi metabolis dan mengakibatkan cadangan energi yang disimpan dalam bentuk lemak dalam jaringan adipose dibongkar untuk memenuhi kebutuhan energi dalam tubuh. menurut Meliandasari et al. (2013) deposisi lemak ayam broiler umumnya disimpan dalam bentuk lemak rongga perut dan di bawah kulit. Kolesterol di dalam tubuh berasal dari dua sumber, kolesterol berasal dari pakan (eksogen) dan kolesterol berasal dari dalam tubuh (endogen) yang diproduksi oleh hati. Hasil analisis statistic menunjukkan bahwa pemberian pakan perlakuan yang telah direndam NaOH 0,1 N tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap kolesterol daging pada semua perlakuan. Sisa kandungan tannin dalam ransum tidak mempengaruhi kolesterol daging . Menurunnya kandungan tanin menurunkan ikatan tannin terhadap protein dan pati, dimana pati merupakan slah satu sumber energi yang potensial dalam tubuh. Metabolisme energi menghasilkan asetil koA yang digunakan sebagai prekusor pembentukan kolesterol. Absorbsi kolesterol dalam tubuh diantaranya di pengaruhi oleh genetik dan nutrisi. Pakan yeng digunakan sebagian besar merupakan pakan yang berasal dari nabati sehingga kandungan kolesterol dalam pakan tidak banyak. absobsi kolesterol dalam telur dan daging dipengaruhi oleh nutrisi, genetik, dan obat-obatan. Kolesterol daging dapat diturunkan dengan menurunkan kolesterol darah. Kolesterol darah dapat diturunkan dengan menurunkan konsumsi, peyerapan usus, menurunkan sintesis endogen dan meningkatkan eksresi pengeluaran empedu dan feses. Selain sebagai prekursor empedu, kolesterol juga sebagai prekursor hormon steroid. Kolesterol daging akan meningkat sejalan dengan meningkatnya kolesterol darah. KESIMPULAN Kesimpulan yang di dapat dari penelitian ini, yaitu: 1. Kulit pisang fermentasi menurunkan bobot potong ayam broiler umur 42 hari yag disebabkan oleh penurunan konsumsi ransum, dengan menurunnya konsumsi ransum pada asupan nutrien bagi ayam. 2. Fermentasi kulit pisang oleh Rhyzopus oligosporus dapat meningkatkan kandungan protein kasar sebesar 46,28% (dari 3,63 menjadi 22,15) dan menurunkan kandungan serat kasar sebesar dari 18,71 menjadi 15,75%. 3. Penambahan limbah kulit pisang fermentasi (LKPF) ke dalam ransum membuat bobot potong, berat dan persentase karkas mengalami penurunan. 4. Kulit pisang terhidrolisis dengan NaOH terhadap kolesterol dalam dada belum berpengaruh nyata. SARAN Dari penelitian yang telah dilakukan, penulis menyarankan perlu diadakannya penelitian lagi tentang bahan tambahan lain yang mampu menopang kelemahan kulit pisang sebagai bahan tambahan pada pakan yang dicampur dalam ransum ayam pedaging agar dapat menetralisir kekurangan dalam ransum maupun pada kulit pisang. Penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari para pemmbaca agar penulis dapat menghasilkan karya ilmiah maupun penelitian yang lebih baik lagi, bermanfaat, dan dapat diaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari. UCAPAN TERIMA KASIH Dengan terselesaikannya Artikel Ilmiah ini, penulis mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada : 1. Allah S.W.T. atas limpahan karunia dan hidayahnya sehingga kami dapat melaksanakan penelitian dan menyelesaikan Karya Ilmiah. 2. Bapak Dr. Ir. Gatot. Ciptadi, DESS selaku dosen metode penelitian saya atas bimbingan dan arahan selama penyusunan dan penulisan Artikel Ilmiah. 3. Kedua Orang Tua kami yang telah membantu dan mendukung saya dalam mengerjakan Karya Ilmiah ini. 4. Rekan-rekan atas kerjasamanya selama penulis melakukan penulisan. 5. Kepada para pembaca yang telah mengapresiasi, memberikan kritik dan saran pada hasil karya kami. DAFTAR PUSTAKA Amrullah KI. 2004. Nutrisi Ayam pedaging. Bogor. Lembaga Satu Gunungbudi. Heruwantoi, dkk. 1998. Potensi Tepung Kulit Pisang sebagai Pakan Ayam Broiler untuk Menghasilkan Daging yang Mengandung Kolesterol Rendah. http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/197003311997022-HERNAWATI/FILE_19.pdf. Diakses pada 29 Mei 2014 Kompyang, I.P ., A,P.Sinurat, T.Purwadaria, J .Danna And Supriyati . 1997 . Cassapro In Broiler Ration : Effect Of Halquinol Supplementation . Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner Vol 2 Nomor 3 Tahun 1997.Pp 181-183 Koni T. N. I. 2009. Pemanfaatan Tepung Kulit Pisang Hasil Fermentasi dengan Jamur Tempe (Rhyzopus Oligosporus) dalam Ransum Terhadap Pertumbuhan Broiler (Tesis S2). Kupang (Indones): Universitas Nusa Cendana. Kupang. Koni, T. N. I., J. B. Therik, dan P. R. Kale. 2013. Pemanfaatan Kulit Pisang Hasil Fermentasi Rhyzopus oligosporus dalam Ransum Terhadap Pertumbuhan Ayam Pedaging. J. Veteriner Vol. 14 (3): 365-370 Meliandasari, D., L.D. Mahfudz, dan W.Sarengat.2013 . Pengaruh Penggunaan Tepung Rumput Laut (Gracilaria Verrucosa) dalam Ransum Terhadap Perlemakan Ayam Broiler Umur 42 Hari. Animal Agriculture Journal 2 (1): 120-127. Samli H.E., N. Senkpylu, H. Akyurek, A and A. Agma. 2006. Using Rice Brain in Layer Diets. J. Cent. Eur. Agric. 7 (1):135-140 Samosir, D. J ., 1983 . Ilmu Ternak Air. PT. Gramedia, Jakarta Shahin KA, Elazeem FA. 2005. Effects Of Breed, Sex and Diet and Their Interactions On Carcass Composition and Tissue Weight Distribution of Broiler Chickens. Arch Tierz Dummerstorf. 48:612-626 Siregar, A.P ., M. Sabrani dan Pramu, S. 1980. Teknik Beternak Ayam Pedaging di Indonesia. Cetakan ke-3 Margie Group, Jakarta. Soeparno. 1998. Ilmu dan Teknologi Daging. Yogjakarta (Indonesia) Gadjah Mada University Press. Sujono. 2001. Pengaruh Penggunaan Bekatul Fermentasi Terhadap Kandungan Nutrient Daging Ayam Arab. Jurnal Ilmu Ternak. 1(2) : 62-66 Sukaryana Y, Atmomarsono U, Yunianto DV, Supriyatna E. 2011. Peningkatan Nilai Kecernaan Protein Kasar dan Lemak Kasar Produk Fermentasi Campuran Bungkil Inti Sawit dan Dedak Padi pada Broiler. JITP. 1:167-172. Supriyati, Pasaribu T, Hamid H, Sinurat A. 1998. Fermentasi Bungkil Inti Sawit Secara Substrat Padat dengan Menggunakan Aspergillus Niger. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 3(3) : 165-170. Udjianto, A . 2003. Peluang Pemanfaatan Limbah Pisang Sebagai Pakan Ternak. Prosiding Temu TeknisFungsional Non Peneliti Tahun 2003 Tanggal 30 Juli 2003, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Bogor. Pp 53-57 . Udjianto A, Rostianti E, Purnama DR. 2005. Pengaruh Pemberian Limbah Kulit Pisang Fermentasi Terhadap Pertumbuhan Ayam Pedaging dan Analisa Usaha. Prosiding Temu Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian, Bogor 2005.Pp 76-81 Utama SC, Estiningdriati I, Yunianto DV, Murningsih W. 2007. Pengaruh Penambahan Aras Mineral pada Fermentasi Sorghum dengan Ragi Tempe Terhadap Kecernaan Nutrien pada Ayam Petelur. Jurnal Animal Productin 9 : 14-17. Wibiastuti, Andria, Osfar Sjofjan, dan Eko Widodo. 2012. Efek Penggunaan Tepung Kulit Pisang Sebagai Pengganti Jagung Terhadap Penampilan Produksi Burung Puyuh (Coturnix-coturnix japonica). Jurnal peternakan universitas brawijaya. Malang. Hal : 1-8 Yamin M. 2008. Pemanfaatkan Ampas Kelapa dan Ampas Kelapa Fermentasi dalam Ransum Terhadap Efesiensi Ransum dan Income Over Feed Cost Ayam Pedaging. Jurnal Agroland 15 (2) : 135 – 139 Zahra , Atika Asirratu, dan Edjeng Supriyatna, Bambang Sukamto.2014 . Pengaruh Pemberian Pakan Sorgum dan Kulit Pisang Terhidrolisis Dengan NaOH Terhadap Lemak dan Kolesterol Ayam Broiler. Agromedia. Vol. 32, No. 1 : 74-81

sapi nasional




1994-2002: Secara nasional populasi sapi potong dari tahun 1994-2002 mengalami penurunan sebesar 3,1 persen per tahun.
2003: Menurut Sensus Pertanian 2003,  jumlah sapi sebanyak 10,2 juta ekor. Populasi kerbau tahun 2003 1,4 juta ekor.
2005: Populasi sapi dan kerbau di Indonesia mencapai jumlah lebih dari 13,5 juta ekor.
2009: produksi daging sapi sebanyak 0,39 juta ton.
2010: produksi daging sapi nasional diharapkan mencapai 0,41 juta ton
2011: Populasi sapi di Indonesia mencapai 15,4 juta ekor berdasarkan hasil akhir Pendataan Sapi Perah, Sapi Potong dan Kerbau (PSPK 2011) oleh BPS bersama Kementan. Riciannya adalah jumlah sapi potong mencapai 14,8 juta ekor, sapi perah sebanyak 597.200 ekor dan kerbau 1,3 juta ekor.

Rumpun sapi potong terbanyak dipelihara adalah sapi Bali dengan capaian 4,8 juta ekor. Sisanya sapi onggole, sapi Madura, sapi limousine dan jenis sapi lainnya.

Provinsi Jatim mencatat angka tertinggi dengan populasi sebanyak 4,7 juta ekor sapi potong dari 7,5 sapi potong di seluruh jawa. Jawa menempati populasi sapi potong terbesar di Indonesia atau sebesar 50,68%. Bali menempati tingkat kerapatan populasi tinggi dengan 137 ekor/km.
Pulau Sumatera menempati urutan kedua dengan populasi jauh di bawah Jawa, yakni 2,7 juta atau setara dengan 18,38%. Setelah itu, Provinsi Bali dan Nusa Tenggara dengan besaran populasi 2,1 juta ekor atau setara dengan 14,18%. Provisni Sulawesi dan Kalimantan menempatri urutan selanjutnya dengan masing-masing besaran 1,8 juta dan 437.400 sapi potong. Berdasarkan komposisi jenis kelamin, populasi sapi potong betina menempati urutan tertinggi dengan jumlah 68,15%, sapi perah betina sebesar 78,95% serta kerbau sebesar 68,75% dari populasi.

Untuk sapi potong, berdasarkan hasil PSPK 2011 populasi sapi potong di Indonesia pada tahun 2011 tercatat 14,8 juta ekor. Secara regional/pulau, populasi sapi potong sebagian besar terdapat di pulau Jawa sebanyak 7,5 juta ekor atau 50,74 persen dari total populasi sapi potong di Indonesia, kemudian pulau Sumatera sebanyak 2,7 juta ekor atau 18,40 persen; Bali dan Nusa Tenggara 2,1 juta ekor atau 14,19 persen; Sulawesi 1,8 juta ekor atau 11,97 persen, sedangkan sisanya berada di Kalimantan, serta Maluku dan Papua dengan jumlah populasi masing-masing kurang dari 0,5 juta ekor. Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi dengan populasi sapi potong terbesar di Indonesia sebanyak 4,7 juta ekor atau 31,93 persen dari populasi sapi potong di Indonesia disusul kemudian Jawa Tengah 1,9 juta ekor. Provinsi lain yang memiliki populasi sapi potong cukup besar, yaitu lebih dari 0,5 juta ekor tercatat berturut turut adalah Sulawesi Selatan 984 ribu ekor atau 6,65 persen, Nusa Tenggara Timur (NTT) 778,2 ribu ekor atau 5,26 persen; Lampung 742,8 ribu ekor atau 5,02 persen; Nusa Tenggara Barat (NTB) 685,8 ribu ekor atau 4,63 persen; Bali 637,5 ribu ekor atau 4,31 persen; dan Sumatera Utara 541,7 ribu ekor atau 3,66 persen dari populasi sapi potong Indonesia.

Untuk sapi perah, juga menunjukkan hal yang sama dengan sapi potong bahwa usaha peternakan sapi perah masih dominan di Pulau Jawa. Hal tersebut ditunjukkan dengan besarnya populasi sapi perah di Pulau Jawa yang mencapai lebih dari 99 persen dari total populasi sapi perah Indonesia sebanyak 597,1 ribu ekor. Dari jumlah tersebut 592,4 ribu ekor diantaranya berada di Pulau Jawa. Populasi sapi perah di pulau Sumatera hanya mencapai 2.388 ekor atau hanya 0,40 persen dari populasi Indonesia, dan sebagian kecil lainnya tersebar di pulau Sulawesi, Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara. Menurut provinsi, populasi sapi perah terbesar adalah Jawa Timur sekitar 296,3 ribu ekor atau 49,61 persen dari total populasi sapi perah Indonesia. Provinsi lain yang memiliki populasi sapi perah cukup besar adalah Jawa Tengah dan Jawa Barat masing-masing 149,9 ribu ekor atau 25,11 persen dan 140 ribu ekor atau 23,44 persen dari total populasi sapi perah Indonesia. Beberapa provinsi seperti Kepulauan Riau, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, dan Papua Barat tidak dijumpai sama sekali sapi perah.

Untuk kerbau, populasi kerbau cenderung tersebar merata secara regional/pulau di seluruh Indonesia. Populasi kerbau terbesar terdapat di Sumatera dengan jumlah 512,8 ribu ekor atau 39,30 persen dari total populasi kerbau Indonesia. Populasi kerbau pulau Jawa mencapai 363 ribu ekor atau 27,82 persen, kemudian pulau Bali dan Nusa Tenggara 257,6 ribu ekor atau 19,74 persen; pulau Sulawesi 110,4 ribu ekor atau 8,46 persen; pulau Kalimantan 41,5 ribu ekor atau 3,18 persen, serta pulau Maluku dan Papua 19,7 ribu ekor atau 1,51 persen dari populasi kerbau Indonesia. Dirinci menurut provinsi, populasi kerbau terbesar terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebanyak 150 ribu ekor atau 11,50 persen dari populasi kerbau di Indonesia. Provinsi lain dengan jumlah populasi kerbau tidak berbeda jauh dengan Nusa Tenggara Timur (NTT) berturut-turut adalah Aceh 131,5 ribu ekor atau 10,08 persen; Jawa Barat 130,1 ribu ekor atau 9,97 persen; Banten 123,1 ribu ekor atau 9,44 persen; Sumatera Utara 114,3 ribu ekor atau 8,76 persen; Nusa Tenggara Barat (NTB) 105,4 ribu atau 8,08 persen dan Sumatera Barat 100,3 ribu ekor atau 7,69 persen dari populasi kerbau Indonesia. Provinsi-provinsi lainnya mencatat populasi kerbau kurang dari 100 ribu ekor.

Secara umum hasil pendataan PSPK2011 menunjukkan bahwa populasi sapi potong, sapi perah, dan kerbau sebagian besar terdapat di Pulau Jawa. Besar kemungkinan karena beberapa faktor, diantaranya adalah tingkat kebutuhan/konsumsi daging di pulau Jawa relatif lebih besar jika dibandingkan dengan kebutuhan daging di luar pulau Jawa. Faktor lain adalah infrastruktur, teknologi dan industri peternakan yang lebih maju di pulau Jawa dibanding dengan daerah-daerah lainnya, terutama industri penyediaan pakan ternak sehingga subsektor peternakan dapat berkembang lebih baik.
 
2003-2011: rata-rata pertumbuhan populasi sapi selama 8 tahun ini sebesar 5,33% per tahun, atau sama dengan 655.500 ekor setiap tahunnya. Sebaliknya, pada periode yang sama, terjadi penurunan setiap tahunnya rata-rata mencapai 7.800 ekor kerbau/tahun.
2014: Komoditas daging sapi ditargetkan bisa berswasembada pada 2014 dengan produksi 0,54 juta ton. Daerah yang dijadikan fokus peningkatan produksi daging sapi yakni Aceh, Sumut, Sumsel, Jambi, Riau, Lampung, Sumbar, Jabar, Jateng, Jatim, Yogyakarta, Bali, Kalsel, Sulsel, Sulbar, Sulteng, Sultra, Gorontalo, NTB dan NTT.