Minggu, 10 Mei 2015

sistem pertanian terpadu



TINJAUAN PUSTAKA
Ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumber daya yang  pada waktu tertentu. Dikatakan efektif bila petani dapat mengalokasikan sumber daya yang mereka miliki sebaik-baiknya, dan dapat dikatakan melebihi input(Shinta, 2011)
Pola tanam tumpangsari/campuran merupakan penanaman campuran dari dua atau lebih jenis sayuran dalam suatu luasan lahan. Jenis sayuran yang digabung bisa banyak variasinya. Pola tanam ini sebagai  upaya memanfaatkan lahan semaksimal mungkin.Tumpangsari  juga dapat dilakukan di ladang-ladang padi atau jagung, maupun pematang sawah. Pola tanam tumpangsari bisa diterapkan untuk tanaman semusim yang umurnya tidak jauh berbeda dengan tanaman berumur panjang yang nantinya menjadi tanaman pokok, prinsip tumpangsari lebih banyak menyangkut tanaman diantaranya :
-  Tanaman yang ditanam secara tumpangsari, dua tanaman atau lebih mempunyai umur yang tidak sama.
- Apabila tanaman yang ditumpangsarikan mempunyai umur  yang hampir sama, sebaiknya fase pertumbuhannya berbeda.
-  Terdapat perbedaan kebutuhan terhadap air, cahaya dan unsur hara.
-  Tanaman mempunyai perbedaan perakaran.
(sudarman,2011)
Menurut Soedjana (2007), beberapa keuntungan dari tumpangsari adalah sebagai berikut:
- mengurangi kerugian yang disebabkan oleh fluktuasi harga pertanian
-  Menekan biaya operasional seperti tenaga kerja dan pemeliharaan tanaman.
- menekan produktifitas tanah sekaligus memperbaiki sifat tanah.
- Usaha pertanian mempunyai hasil panen yang berkesinambungan
- meningkatkan hasil produksi atau panen.
-mengurangi resiko kegagalan
-Mencoba memaksimalkan pengolahan lahan
-Menghemat sarana produki pertanian.
System penanaman tumpang sari/campuran dapat meningkatkan produksi tanaman tersebut jenis tanaman sayur yang bisa digunakan dalam sistem campuran ini diantaranya adalah jagung, ketela pohon, kol, kentang, bawang-daun, dan seledri. Sedangkan tanaman utama biasanya ialah: padi jagung, rumput gajah, dan yang lainya (Basuki Suwidji 2005).
Bahwa Berbagai pola penanaman tumpangsari/campuarn sudah terbukti bagus pada lahan yang kering. Disamping sebagai usaha diversifikasi komoditas, pola tumpang sari dilihat dapat memanfaatkan lahan dan energy dengan baik (Hidayah. 2010).
              Pemanfaatan limbah tanaman sebagaipakan, serta limbah ternak menjadi pupuk dan sumber energi alternatif merupakan potensi yang perlu dikembangkan oleh seorang peternak pertanian(Haryanto, Budi. 2009).













3.2.1. Ilmu Usahatani campuran (mixed farming system)
Menurut Shinta (2011) bahwa ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumber daya yang  pada waktu tertentu.Dikatakan efektif bila petani dapat mengalokasikan sumber daya yang mereka miliki sebaik-baiknya, dan dapat dikatakan melebihi input.
Usaha tani campuran adalah usaha tani yang dilakukan lebih dari satu jenis komoditas pada waktu yang bersamaan. Dalam usaha tani campuran akan terjadi persaingan di dalam pemanfaatan sumberdaya yang ada. Umunnya petani menanam dan pemanfatan berbagai jenis tanaman dalam satu kesatuan usaha rumah tangga untuk mengurangui resiko kegagalan panen dan seranagn penyakit. Hal ini sesuai dengansudarman (2011)bahwa Pola tanam tumpangsari/campuran merupakan penanaman campuran dari dua atau lebih jenis sayuran dalam suatu luasan lahan. Jenis sayuran yang digabung bisa banyak variasinya. Pola tanam ini sebagai  upaya memanfaatkan lahan semaksimal mungkin.Tumpangsari  juga dapat dilakukan di ladang-ladang padi atau jagung, maupun pematang sawah. Pola tanam tumpangsari bisa diterapkan untuk tanaman semusim yang umurnya tidak jauh berbeda dengan tanaman berumur panjang yang nantinya menjadi tanaman pokok, prinsip tumpangsari lebih banyak menyangkut tanaman diantaranya :
-  Tanaman yang ditanam secara tumpangsari, dua tanaman atau lebih mempunyai umur yang tidak sama.
- Apabila tanaman yang ditumpangsarikan mempunyai umur  yang hampir sama, sebaiknya fase pertumbuhannya berbeda.
-  Terdapat perbedaan kebutuhan terhadap air, cahaya dan unsur hara.
-  Tanaman mempunyai perbedaan perakaran.
Pola tanam tumpangsari memberikan berbagai keuntungan, baik ditinjau dari aspek ekonomis, maupun lingkungan agronomis. Menurut Soedjana(2007), beberapa keuntungan dari tumpangsari adalah sebagai berikut:
- mengurangi kerugian yang disebabkan oleh fluktuasi harga pertanian
-  Menekan biaya operasional seperti tenaga kerja danpemeliharaan tanaman.
- menekan produktifitas tanah sekaligus memperbaiki sifat tanah.
- Usaha pertanian mempunyai hasil panen yang berkesinambungan
- meningkatkan hasil produksi atau panen.
-mengurangi resiko kegagalan
-Mencoba memaksimalkan pengolahan lahan
-Menghemat sarana produki pertanian.
Berdasarkan hasil observasi serta wawancara dengan petani campuran dan juga sebagai peternak, yang bernama bapak Madkal 65 tahun yang bertempat di Desa: dadap tulis dalam, RT 03 RW 07, Joenrejo Batu .Bapak Madkal memiliki luas lahan pertanian sekitar 10.000 M2, dan luas areal peternakan sekitar 2500M2. Dan sisanya adalah pertanian.
Komoditi pertanian yang diproduksi oleh bapak Madkal adalah rumput gajah sebagai pakan ternak, padi untuk di olah sendri karena melayani (usaha catering), orang-orang yang ada di vila, yang beliau kelolah, untuk jeraminya dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Selain itu pak Madkal juga menanam kacang tanah yang ada di galengan (parit) sebagai tanaman tambahan yang hsil panenya dikonsumsi sendiri.Sedangkan komoditi peternakan yang dipelihara oleh pak Madkal ini adalah sapi pedaging yang berjumlah 7 ekor.
Lokasi pertanian pak Madkal berada cukup jauh dari rumahnya, tetapi bersampingan dengan vili yang beliau kelolah sedangkan lokasi peternakan milik beliau berada tepat disamping sawahnya.Padi yang ditanam pak Madkal seluas  5.000 M2 dan untuk rumput gajah yaitu 2.500 M2. Jadi dengan adanya sistem campuran ini dapat memberikan hasil yang lebih baik dan banyak, kepada beliau. Sehingga meningkatkan penghassilan, Hal ini sesuai dengan pendapat (Basuki Suwidji 2005) yang menyatakan bahwa System penanaman tumpang sari/campuran dapat meningkatkan produksi tanaman tersebut jenis tanaman sayur yang bisa digunakan dalam sistem campuran ini diantaranya adalah jagung, ketela pohon, kol, kentang, bawang-daun, dan seledri. Sedangkan tanaman utama biasanya ialah: padi jagung, rumput gajah, dan yang lainya. Hal ini didukungdengan (Hidayah. 2010) bahwa Berbagai pola penanaman tumpangsari/campuarn sudah terbukti bagus pada lahan yang kering. Disamping sebagai usaha diversifikasi komoditas, pola tumpang sari dilihat dapat memanfaatkan lahan dan energy dengan baik.
A.    Analisa usaha tani campuran
Pada lahan yang dimiliki pak Madkal Tanaman yang ditanam antara lain padi, rumput gajah dan kacang tanah yang ada di galenagn. Setiap kali panen tanaman padi dapat menghasilakankurang lebih 5 ton padi, pemupukan dilakukan 2 kali pada hari ke 15 setelah ditanam, dan 40 hari setelah ditanam. Jenis pupuk yang dgunakan  yaitu pupuk Urea, KCl, TSP dan pupuk kandang. Begitu pun ungtuk rumput gajah juga digunakan pupuk kandang, pak Madkal menggunakan pupuk kandang dari hasil limbah ternak miliknya untuk meningkatkan pertumbuhan dari rumput gajahnya dan untuk menghemat biaya produksi.
              Hal ini sesuai dengan pendapat (Haryanto, Budi. 2009) Pemanfaatan limbah tanaman sebagaipakan, serta limbah ternak menjadi pupuk dan sumber energi alternatif merupakan potensi yang perlu dikembangkan oleh seorang peternak pertanian.
1. Teknik Penanaman padi
a.       Penentuan Pola Tanam
              Pola tanam memiliki arti penting dalam sistem produksi tanaman. Dengan pola tanam ini berarti memanfaatkan dan memadukan berbagai komponen yang tersedia (tanah, tanaman, hama dan penyakit, keteknikan dan sosial ekonomi). Pola tanam di daerah tropis seperti di Indonesia, biasanya disusun selama 1 tahun dengan memperhatikan curah hujan (terutama pada daerah/lahan yang sepenuhnya tergantung dari hujan.Maka pemilihan jenis/varietas yang ditanampun perlu disesuaikan dengan keadaan air yang tersedia ataupun curah hujan.
Pola tanam yang digunakan oleh pak Madkal yaitu campuran(mixed farming) melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda). Contoh: tanaaman yang  umur panenya hampir samaa seperti padi dan jagung; tanaman campuran yang beda umur seperti padi, kacang tanah, rumput gajah.
b.       Cara Penanaman
      Pdi disebar dahulu, sekitar umur 30 hari di cabut, (daut) dan penanaman padi dapat dilakukan. Pada jarak tanam 15x30 cm setiap jarak tanaman.Tanaman ini tidak dapat tumbuh dengan baik pada saat air kurang.Ditanam pada waktu musim penghujan atau waktu musim hujan hamperberakhir dengan idtambahkan aliran alir bila dibutuhkan,. Tetapi air hendaknya harus tersedia selama pertumbuhan tanaman padi.Pada saat penanaman sebaiknya tanah dalam keadaan berair dan seperti lumpuran dan tergenang.Apabila tanah kering, perlu diairi dahul.
c. Pemeliharaan TanamanPenyiangan.     
Penyiangan bertujuan untuk membersihkan
sawah dari tanaman pengganggu (gulma).Penyiangan dilakukan 20 hari setalah diatnami. Penyiangan pada tanaman padi biasanya dilakukan dengan tangan,atau garpu dan sebagainya. Yang penting dalam penyiangan ini tidak mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah.
d. Pemupukan
Dosis pemupukan
padi untuk setiap hektarnya adalah pupuk Urea sebanyak 250-300 kg, pupuk TSP/SP 36 sebanyak 75-100 kg, dan pupuk KCl sebanyak 50- 100 kg.Pemupukan dapat dilakukan dalam 3 tahap.
      -Pada tahap pertama (pupuk dasar), pupuk diberikan bersamaan dengan waktu tanam. (waktu disebar) pemupukan ini hayna sedikit
      -Pada tahap kedua (pupuk susulan I), pupuk diberikan setelah tanaman padi berumur 15 hari setelah ditanam.(bukan dari biji)
      -Pada tahap ketiga (pupuk susulan II), pupuk diberikan setelah tanaman padi berumur 40 hari

e.  Pengairan
Pengairan dilakukan apabila tanaman padi kekurangan air, kemungkinna terjadi ketika musim penghujan hampir usai.

f.  Waktu Penyemprotan Pestisida
Penggunaan pestisida hanya diperkenankan setelah terlihat adanya hama yang dapat membahayakan proses produksi padi. Adapun pestisida yang digunakan yaitu pestisida yang dipakai untuk mengendalikan ulat. Pelaksanaan penyemprotan hendaknya memperlihatkan kelestarian musuh alami dan tingkat populasi hama yang menyerang, sehingga perlakuan ini akan lebih efisien.

g. Panen
Ciri padi yang siap dipanen adalah:
a)   Umur panen adalah 3 bulan setelah tanam dari awal sebaran biji.
b)   padi siap dipanen dengan jerami mulai menguning.
c)   Biji kering,kuning, dan keras.

B.Analisa produksi meliputi: biaya produksi, hasil produksi, dan laba petani
1.      Biaya produksi
Bibit: benih padi 10 kg @ Rp. 10.000,-                            →  Rp. 100.000,-
Pupuk
- Urea:
250 kg @ Rp. 1.800,-                         →Rp.450.000,-
- TSP 36: 75 kg @ Rp.2.000,-           
                        →Rp.150.000,-
-
Ponska: 50 kg @ Rp. 2000,-                                     →Rp.100.000,-
Pestisida
- Insektisida(starban): 200 ml @ Rp. 18.000,-                  →  Rp. 36.000,-
Tenagakerja
- Pengolahan lahan4 orang @ Rp. 40.000,-                      →Rp. 320.000,- (2 hari)
- Penyiangan dan pembumbunan: 6 orang @ Rp. 25.000,-→Rp. 300.000,- (2 hari)
- Pemeliharaan lain                                                            →Rp. 100.000,-
Panen Rp. 150.000,-
Biaya lain-lain Rp. 100.000,-
Total :Rp1.806.000,-
8.Pendapatan 5 ton @ Rp. 3.500,00,-                  →   Rp17.500.000,-
9. Keuntungan Bersih                                           →Rp15.694.000,- (setiap panen)

2. Teknik Penanaman Rumput Gajah
1.      Penentuan Pola Tanam
Pola tanam yang dilakukan oleh pak Madkal yaitu pola monoculture/tunggal atau secara merapat.Hal ini tentu berkaitan dengan treatment dan perawatan yang optimal yang perlu diberikan.
2. Persiapan Lahan
a. Persiapan Lahan
Tanaman pakan ternak menghendaki tanah yang gembur dan subur.Tanah yang miskin hara sebaiknya dipupuk terlebih dahulu dengan pupuk kandang.Waktu pengolahan/persiapan lahan sebaiknya pada akhir musim kemarau menjelang musim penghujan.
b. Pengolahan Tanah
Pada tahapan ini yang dilakukan adalah melakukan pembersihan, pembajakan dan penggaruan untuk menggemburkan tanah.Pembersihan dilakukan terhadap pohon-pohonan semak belukar dan alang-alang.

3.      Penanaman
       Penanaman bibit rumput gajah dapat melalui biji, sobekan rumpun (pols) batang atau stek.Penanaman yang lebih mudah melalui sobekan rumpun dan stek.Pada penggunaan sobekan rumpun dapat diambil 3 – 4 akar rumpun yang ukurannya tidak terlalu kecil. Jarak tanam yang ideal adalah 30 X 50 cm. Apabila batang/stek yang digunakan maka harus dipilih umur batang yang cukup tua (sekitar 2 bulan) dengan jumlah mata ruas 2- 3 buah. Jarak tanam yang dianjurkan adalah 30 x 30 cm dengan posisi batang ditancapkan miring 30˚ untuk mempermudah pertumbuhan akar.Pemupukan dapat dilakukan pada saat umur rumput 2 – 3 minggu.
4.      Pemeliharaan
       Pemeliharaan berkala dapat dilakukan dengan penyulaman dan penyiangan atau merapikan rumpun yang tumbuh subur di luar jalur tanam.Pengairan dapat dilakukan sebelum pemupukan pada saat kondisi lahan terlalu kering.
5.      Pemupukan
a.       Pupuk Dasar dan Penanaman setelah melakukan pengolahan lahan, dilanjutkan dengan pemupukan dasar menggunakan pupuk kandang (manure sapi) (±1 ton/ha) dan dilanjutkan dengan mengguludkan lahan tanam. Kemudian dilakukan penanaman dengan metoda stek batang. b.
b.      Pemupukan KeduaPemupukan kedua dilakukan 2 minggu setelah tanam dengan menggunakan pupuk NPK (16:16:16) dengan dosis 15 kg / ¼ hektar. Pemupukan kedua ini biasanya dibarengi dengan penyaueran (menimbunkan tanah dan rumput liar untuk meninggikan guludan).
c.       Pemupukan LanjutanPemupukan kimia selanjutnya dilakukan pada musim hujan yang akan datang. Untuk selanjutnya diharapkan pemupukan cukup dengan menggunakan pupuk kandang sebanyak 2 kali per tahun, 1 kali pada musim hujan, dan 1 kali pada musim kemarau.
6.      Pemanenan/pemotongan
Rumput gajah dapat dipanen pada umur 30-40 hari atau sebelum rumput berbunga. Umumnya pada umur lebih dari 50 hari, rumput akan mulai berbunga dan mengeras batangnya, hal ini harus dihindari karena dapat menurunkan nilai gizi dari rumput yang akan dikonsumsi ternak. Pemotongan dilakukan pada ruas batang terbawah dengan menyisakan batang sepanjang 5-10 cm.
Biaya Produksi Rumput gajah
Ø  Bibit 125 kg @ Rp. 1000,-                                   → Rp.125.000,-
Pupuk
Ø  Pupuk kandang 150 kg @ Rp. 500,-                    → Rp. 75.000,-
Ø  NPK 15 kg @ Rp. 2.300,-                                                → Rp. 34.500,-
Ø  Tenaga kerja
Ø  Pengolahan lahan1 orang @ Rp. 40.000,-            → Rp. 80.000,- (2 hari)
Ø  Penanaman: 1orang @ Rp. 40.000,-                     → Rp. 120.000,- (3 hari)
Ø  Pemupukan: 1 orang @ Rp. 40.000,-                    → Rp. 120.000,-(3 hari)
Ø  Total          Rp. 554.500,-
Ø  Panen 6ton 2 x dalam sebulan
a. Diberikan ternak sapi 7 ekor 140 kg setiap hari
Sebulan @ 140 x 30 hari                     → 4,2 ton.
b.Sisa 1800 kg dijual @ Rp. 350,-            →  Rp. 630.000,-

Ø  Keuntungan bersih setiap bulan     →  Rp. 75.500,-

DAFTAR PUSTAKA
Basuki, Suwidji. 2005. Optimasi Pola Usaha Tumpang Sari Dengan Program Tujuan Ganda Pada         Areal Tananaman Pinus.Bogor. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Kehutanan dan           Perkebunan.http://www.googlecendikia.com
Haryanto, Budi. 2009. Inovasi Teknologi Pakan Ternak Dalam Sistem Integrasi Tanaman -           Ternak Bebas Limbah Mendukung Upaya Peningkatan Produksi Daging. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.http://www.googlecendikia,com

Hidayah,ismatul.2010. Integrasi Usahatani Dan Diversifikasi Komoditas Dalam Rangka Penanggulangan Dampak Keterpurukan Ekonomi Pasca Serangan Hama Kelapa Aspidiotus.Destructor  Di Kecamatan Kei Besar Kabupaten Maluku Tenggara. Agrika, Volume 4 No.2,
Shinta.2011.Pengembangan Teknologi Sistem Usahatani  Tanaman-Ternak di Lahan Kering. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman  Pangan III.  Puslitbang Tanaman Pangan.  Balitbangtan Deptan
Sudarman. 2011. Pengaruh empat faktor produksi dalam penda[atan dalam usaha tani campuran tanaman pakan dan  peternakan ruminansia kecil. Sekolah tinggi penyyuluhan pertaniaan. Magelang
Soedjana,Tjeppy. 2007. Sistem Usaha Tani Terintegrasi Tanaman-Ternak Sebagai Respons Petani Terhadap Faktor Risiko.Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Jalan Raya Pajajaran Kav. E. 59, Bogor 16151