TINJAUAN
PUSTAKA
Ilmu
usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan
sumber daya yang pada waktu tertentu.
Dikatakan efektif bila petani dapat mengalokasikan sumber daya yang mereka
miliki sebaik-baiknya, dan dapat dikatakan melebihi input(Shinta, 2011)
Pola tanam
tumpangsari/campuran merupakan penanaman campuran dari dua atau lebih jenis
sayuran dalam suatu luasan lahan. Jenis sayuran yang digabung bisa banyak
variasinya. Pola tanam ini sebagai upaya
memanfaatkan lahan semaksimal mungkin.Tumpangsari juga dapat dilakukan di ladang-ladang padi
atau jagung, maupun pematang sawah. Pola tanam tumpangsari bisa diterapkan
untuk tanaman semusim yang umurnya tidak jauh berbeda dengan tanaman berumur
panjang yang nantinya menjadi tanaman pokok, prinsip tumpangsari lebih banyak
menyangkut tanaman diantaranya :
-
Tanaman yang ditanam secara tumpangsari, dua tanaman atau lebih
mempunyai umur yang tidak sama.
- Apabila tanaman yang ditumpangsarikan
mempunyai umur yang hampir sama, sebaiknya
fase pertumbuhannya berbeda.
-
Terdapat perbedaan kebutuhan terhadap air, cahaya dan unsur hara.
-
Tanaman mempunyai perbedaan perakaran.
(sudarman,2011)
Menurut Soedjana (2007),
beberapa keuntungan dari tumpangsari adalah sebagai berikut:
- mengurangi kerugian yang
disebabkan oleh fluktuasi harga pertanian
-
Menekan biaya operasional seperti tenaga kerja dan pemeliharaan tanaman.
- menekan produktifitas tanah
sekaligus memperbaiki sifat tanah.
- Usaha pertanian mempunyai hasil
panen yang berkesinambungan
- meningkatkan hasil produksi atau panen.
-mengurangi resiko kegagalan
-Mencoba memaksimalkan pengolahan
lahan
-Menghemat sarana produki pertanian.
System penanaman tumpang sari/campuran dapat meningkatkan produksi tanaman tersebut jenis
tanaman sayur yang bisa digunakan dalam sistem campuran
ini diantaranya adalah jagung, ketela pohon, kol, kentang,
bawang-daun, dan seledri. Sedangkan tanaman
utama biasanya ialah: padi jagung, rumput gajah, dan yang lainya (Basuki Suwidji 2005).
Bahwa
Berbagai pola penanaman tumpangsari/campuarn
sudah terbukti bagus pada lahan yang kering. Disamping
sebagai usaha diversifikasi komoditas, pola tumpang sari dilihat dapat
memanfaatkan lahan dan energy dengan baik (Hidayah. 2010).
Pemanfaatan limbah tanaman sebagaipakan, serta limbah ternak menjadi pupuk
dan sumber energi alternatif merupakan potensi yang perlu dikembangkan oleh
seorang peternak pertanian(Haryanto, Budi. 2009).
3.2.1. Ilmu Usahatani
campuran (mixed farming system)
Menurut
Shinta (2011) bahwa ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana
seseorang mengalokasikan sumber daya yang
pada waktu tertentu.Dikatakan efektif bila petani dapat mengalokasikan
sumber daya yang mereka miliki sebaik-baiknya, dan dapat dikatakan melebihi
input.
Usaha tani campuran
adalah usaha tani yang dilakukan lebih dari satu jenis komoditas pada waktu
yang bersamaan. Dalam usaha tani campuran akan terjadi persaingan di dalam
pemanfaatan sumberdaya yang ada. Umunnya petani menanam dan pemanfatan berbagai
jenis tanaman dalam satu kesatuan usaha rumah tangga untuk mengurangui resiko
kegagalan panen dan seranagn penyakit. Hal ini sesuai dengansudarman (2011)bahwa
Pola tanam tumpangsari/campuran merupakan penanaman campuran dari dua atau
lebih jenis sayuran dalam suatu luasan lahan. Jenis sayuran yang digabung bisa
banyak variasinya. Pola tanam ini sebagai
upaya memanfaatkan lahan semaksimal mungkin.Tumpangsari juga dapat dilakukan di ladang-ladang padi
atau jagung, maupun pematang sawah. Pola tanam tumpangsari bisa diterapkan
untuk tanaman semusim yang umurnya tidak jauh berbeda dengan tanaman berumur
panjang yang nantinya menjadi tanaman pokok, prinsip tumpangsari lebih banyak
menyangkut tanaman diantaranya :
-
Tanaman yang ditanam secara tumpangsari, dua tanaman atau lebih
mempunyai umur yang tidak sama.
- Apabila tanaman yang ditumpangsarikan
mempunyai umur yang hampir sama,
sebaiknya fase pertumbuhannya berbeda.
-
Terdapat perbedaan kebutuhan terhadap air, cahaya dan unsur hara.
-
Tanaman mempunyai perbedaan perakaran.
Pola tanam tumpangsari
memberikan berbagai keuntungan, baik ditinjau dari aspek ekonomis, maupun
lingkungan agronomis. Menurut Soedjana(2007), beberapa keuntungan dari
tumpangsari adalah sebagai berikut:
- mengurangi kerugian yang
disebabkan oleh fluktuasi harga pertanian
-
Menekan biaya operasional seperti tenaga kerja danpemeliharaan tanaman.
- menekan produktifitas tanah
sekaligus memperbaiki sifat tanah.
- Usaha pertanian mempunyai hasil
panen yang berkesinambungan
- meningkatkan hasil produksi atau panen.
-mengurangi resiko kegagalan
-Mencoba memaksimalkan pengolahan
lahan
-Menghemat sarana produki pertanian.
Berdasarkan hasil observasi serta wawancara dengan
petani campuran dan juga sebagai peternak, yang bernama bapak Madkal
65 tahun yang bertempat di Desa:
dadap tulis dalam, RT 03 RW 07, Joenrejo Batu .Bapak Madkal memiliki luas lahan pertanian sekitar 10.000 M2, dan luas areal peternakan sekitar 2500M2. Dan sisanya
adalah pertanian.
Komoditi pertanian yang diproduksi oleh bapak Madkal adalah rumput gajah sebagai pakan ternak, padi
untuk di olah sendri karena
melayani (usaha catering), orang-orang yang ada di vila, yang beliau kelolah,
untuk jeraminya dimanfaatkan sebagai
pakan ternak. Selain itu pak Madkal juga menanam kacang tanah
yang ada di galengan (parit) sebagai tanaman
tambahan yang hsil panenya dikonsumsi sendiri.Sedangkan komoditi peternakan yang dipelihara oleh pak Madkal ini adalah sapi pedaging yang berjumlah 7
ekor.
Lokasi pertanian pak Madkal berada cukup jauh dari rumahnya, tetapi
bersampingan dengan vili yang beliau kelolah
sedangkan lokasi peternakan milik beliau berada tepat disamping sawahnya.Padi yang ditanam pak
Madkal seluas 5.000 M2 dan untuk rumput gajah yaitu 2.500 M2. Jadi dengan
adanya sistem campuran ini dapat memberikan hasil yang lebih baik dan banyak,
kepada beliau. Sehingga meningkatkan penghassilan, Hal ini sesuai dengan pendapat (Basuki Suwidji 2005) yang menyatakan bahwa System penanaman tumpang sari/campuran dapat meningkatkan produksi tanaman tersebut jenis
tanaman sayur yang bisa digunakan dalam sistem campuran
ini diantaranya adalah jagung, ketela pohon, kol, kentang,
bawang-daun, dan seledri. Sedangkan tanaman
utama biasanya ialah: padi jagung, rumput gajah, dan yang lainya. Hal ini didukungdengan (Hidayah. 2010) bahwa Berbagai pola penanaman tumpangsari/campuarn
sudah terbukti bagus pada lahan yang kering. Disamping
sebagai usaha diversifikasi komoditas, pola tumpang sari dilihat dapat
memanfaatkan lahan dan energy dengan baik.
A.
Analisa
usaha tani campuran
Pada lahan
yang dimiliki pak Madkal Tanaman yang ditanam antara
lain padi, rumput gajah dan kacang tanah yang ada di galenagn. Setiap kali panen tanaman padi dapat menghasilakankurang lebih
5 ton padi, pemupukan
dilakukan 2 kali pada hari ke 15
setelah ditanam, dan 40 hari setelah ditanam. Jenis pupuk yang dgunakan yaitu pupuk Urea, KCl, TSP dan pupuk
kandang. Begitu pun ungtuk rumput gajah juga digunakan pupuk kandang, pak Madkal menggunakan pupuk kandang
dari hasil limbah ternak miliknya untuk meningkatkan pertumbuhan dari rumput
gajahnya dan untuk menghemat biaya
produksi.
Hal ini sesuai dengan pendapat (Haryanto, Budi. 2009) Pemanfaatan limbah
tanaman sebagaipakan, serta limbah ternak menjadi pupuk dan sumber energi
alternatif merupakan potensi yang perlu dikembangkan oleh
seorang peternak pertanian.
1. Teknik Penanaman padi
a.
Penentuan Pola Tanam
Pola tanam memiliki arti penting dalam sistem produksi tanaman. Dengan pola
tanam ini berarti memanfaatkan dan memadukan berbagai komponen yang tersedia
(tanah, tanaman, hama dan penyakit, keteknikan dan sosial ekonomi). Pola tanam
di daerah tropis seperti di Indonesia, biasanya disusun selama 1 tahun dengan
memperhatikan curah hujan (terutama pada daerah/lahan yang sepenuhnya
tergantung dari hujan.Maka pemilihan jenis/varietas yang ditanampun perlu
disesuaikan dengan keadaan air yang tersedia ataupun curah hujan.
Pola tanam yang
digunakan oleh pak Madkal yaitu campuran(mixed
farming) melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur
sama atau berbeda). Contoh: tanaaman yang umur panenya
hampir samaa seperti padi dan jagung; tanaman campuran yang beda umur
seperti padi, kacang tanah, rumput
gajah.
b.
Cara Penanaman
Pdi
disebar dahulu, sekitar umur 30 hari di cabut, (daut) dan penanaman padi dapat
dilakukan. Pada jarak tanam 15x30 cm setiap jarak tanaman.Tanaman ini
tidak dapat tumbuh dengan baik pada saat air kurang.Ditanam pada waktu musim penghujan atau waktu musim hujan hamperberakhir dengan
idtambahkan aliran alir bila dibutuhkan,. Tetapi
air hendaknya harus tersedia selama pertumbuhan
tanaman padi.Pada saat penanaman sebaiknya
tanah dalam keadaan berair dan seperti lumpuran dan tergenang.Apabila tanah kering, perlu diairi dahul.
c. Pemeliharaan
TanamanPenyiangan.
Penyiangan bertujuan untuk membersihkan sawah dari tanaman pengganggu (gulma).Penyiangan dilakukan 20 hari setalah diatnami. Penyiangan pada tanaman padi biasanya dilakukan dengan tangan,atau garpu dan sebagainya. Yang penting dalam penyiangan ini tidak mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah.
Penyiangan bertujuan untuk membersihkan sawah dari tanaman pengganggu (gulma).Penyiangan dilakukan 20 hari setalah diatnami. Penyiangan pada tanaman padi biasanya dilakukan dengan tangan,atau garpu dan sebagainya. Yang penting dalam penyiangan ini tidak mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah.
d. Pemupukan
Dosis pemupukan padi untuk setiap hektarnya adalah pupuk Urea sebanyak 250-300 kg, pupuk TSP/SP 36 sebanyak 75-100 kg, dan pupuk KCl sebanyak 50- 100 kg.Pemupukan dapat dilakukan dalam 3 tahap.
Dosis pemupukan padi untuk setiap hektarnya adalah pupuk Urea sebanyak 250-300 kg, pupuk TSP/SP 36 sebanyak 75-100 kg, dan pupuk KCl sebanyak 50- 100 kg.Pemupukan dapat dilakukan dalam 3 tahap.
-Pada tahap pertama (pupuk dasar), pupuk diberikan bersamaan dengan waktu
tanam. (waktu disebar) pemupukan ini hayna sedikit
-Pada tahap kedua (pupuk susulan I), pupuk diberikan setelah tanaman padi berumur
15 hari setelah ditanam.(bukan dari biji)
-Pada tahap ketiga (pupuk susulan II), pupuk diberikan setelah tanaman padi berumur
40 hari
e. Pengairan
Pengairan dilakukan
apabila tanaman padi kekurangan air, kemungkinna terjadi ketika musim penghujan
hampir usai.
f. Waktu Penyemprotan Pestisida
Penggunaan pestisida hanya diperkenankan setelah terlihat adanya hama yang
dapat membahayakan proses produksi padi. Adapun
pestisida yang digunakan yaitu pestisida yang dipakai untuk mengendalikan ulat.
Pelaksanaan penyemprotan hendaknya memperlihatkan kelestarian musuh alami dan
tingkat populasi hama yang menyerang, sehingga perlakuan ini akan lebih
efisien.
g. Panen
Ciri padi yang siap dipanen adalah:
a) Umur panen
adalah 3 bulan setelah
tanam dari awal sebaran biji.
b) padi siap dipanen dengan jerami mulai menguning.
c) Biji kering,kuning, dan keras.
B.Analisa produksi
meliputi: biaya produksi, hasil produksi, dan laba petani
1. Biaya produksi
Bibit: benih padi 10 kg @ Rp. 10.000,- → Rp. 100.000,-
Pupuk
- Urea: 250 kg @ Rp. 1.800,- →Rp.450.000,-
- TSP 36: 75 kg @ Rp.2.000,- →Rp.150.000,-
- Ponska: 50 kg @ Rp. 2000,- →Rp.100.000,-
- Urea: 250 kg @ Rp. 1.800,- →Rp.450.000,-
- TSP 36: 75 kg @ Rp.2.000,- →Rp.150.000,-
- Ponska: 50 kg @ Rp. 2000,- →Rp.100.000,-
Pestisida
- Insektisida(starban): 200 ml @ Rp. 18.000,- → Rp. 36.000,-
Tenagakerja
- Pengolahan lahan4 orang @ Rp. 40.000,- →Rp. 320.000,- (2 hari)
- Penyiangan dan pembumbunan: 6 orang @ Rp.
25.000,-→Rp. 300.000,- (2 hari)
- Pemeliharaan lain →Rp.
100.000,-
Panen Rp. 150.000,-
Biaya lain-lain Rp. 100.000,-
Total :Rp1.806.000,-
8.Pendapatan
5 ton @ Rp. 3.500,00,- → Rp17.500.000,-
9. Keuntungan
Bersih →Rp15.694.000,- (setiap panen)
2. Teknik Penanaman Rumput Gajah
1. Penentuan Pola Tanam
Pola tanam yang dilakukan oleh pak Madkal yaitu pola monoculture/tunggal atau secara merapat.Hal ini tentu berkaitan
dengan treatment dan perawatan yang optimal yang perlu diberikan.
2. Persiapan
Lahan
a. Persiapan
Lahan
Tanaman pakan ternak menghendaki tanah yang
gembur dan subur.Tanah yang miskin hara sebaiknya dipupuk terlebih dahulu
dengan pupuk kandang.Waktu pengolahan/persiapan lahan sebaiknya pada akhir
musim kemarau menjelang musim penghujan.
b. Pengolahan
Tanah
Pada tahapan ini yang dilakukan adalah melakukan
pembersihan, pembajakan dan penggaruan untuk menggemburkan tanah.Pembersihan
dilakukan terhadap pohon-pohonan semak belukar dan alang-alang.
3.
Penanaman
Penanaman bibit rumput gajah dapat melalui biji, sobekan rumpun (pols)
batang atau stek.Penanaman yang lebih mudah melalui sobekan rumpun dan
stek.Pada penggunaan sobekan rumpun dapat diambil 3 – 4 akar rumpun yang
ukurannya tidak terlalu kecil. Jarak tanam yang ideal adalah 30 X 50 cm.
Apabila batang/stek yang digunakan maka harus dipilih umur batang yang cukup
tua (sekitar 2 bulan) dengan jumlah mata ruas 2- 3 buah. Jarak tanam yang
dianjurkan adalah 30 x 30 cm dengan posisi batang ditancapkan miring 30˚ untuk
mempermudah pertumbuhan akar.Pemupukan dapat dilakukan pada saat umur rumput 2
– 3 minggu.
4.
Pemeliharaan
Pemeliharaan berkala dapat dilakukan dengan penyulaman dan penyiangan atau
merapikan rumpun yang tumbuh subur di luar jalur tanam.Pengairan dapat
dilakukan sebelum pemupukan pada saat kondisi lahan terlalu kering.
5.
Pemupukan
a. Pupuk Dasar dan Penanaman setelah melakukan pengolahan lahan, dilanjutkan
dengan pemupukan dasar menggunakan pupuk kandang (manure sapi) (±1 ton/ha)
dan dilanjutkan dengan mengguludkan lahan tanam. Kemudian dilakukan penanaman
dengan metoda stek batang. b.
b. Pemupukan KeduaPemupukan kedua dilakukan 2 minggu setelah tanam dengan
menggunakan pupuk NPK (16:16:16) dengan dosis 15 kg / ¼ hektar. Pemupukan kedua ini
biasanya dibarengi dengan penyaueran (menimbunkan tanah dan rumput liar untuk
meninggikan guludan).
c. Pemupukan LanjutanPemupukan kimia selanjutnya dilakukan pada musim hujan
yang akan datang. Untuk selanjutnya diharapkan pemupukan cukup dengan
menggunakan pupuk kandang sebanyak 2 kali per tahun, 1 kali pada musim hujan,
dan 1 kali pada musim kemarau.
6.
Pemanenan/pemotongan
Rumput gajah dapat dipanen pada umur 30-40 hari
atau sebelum rumput berbunga. Umumnya pada umur lebih dari 50 hari, rumput akan
mulai berbunga dan mengeras batangnya, hal ini harus dihindari karena dapat
menurunkan nilai gizi dari rumput yang akan dikonsumsi ternak. Pemotongan
dilakukan pada ruas batang terbawah dengan menyisakan batang sepanjang 5-10 cm.
Biaya Produksi Rumput gajah
Ø Bibit 125 kg @ Rp. 1000,- → Rp.125.000,-
Pupuk
Ø Pupuk kandang 150 kg @ Rp. 500,- → Rp. 75.000,-
Ø NPK 15 kg @ Rp. 2.300,- → Rp. 34.500,-
Ø Tenaga kerja
Ø Pengolahan lahan1 orang @ Rp. 40.000,- → Rp. 80.000,- (2 hari)
Ø Penanaman: 1orang @ Rp. 40.000,- → Rp. 120.000,- (3 hari)
Ø Pemupukan: 1 orang @ Rp. 40.000,- → Rp. 120.000,-(3
hari)
Ø Total Rp. 554.500,-
Ø Panen 6ton 2 x dalam sebulan
a. Diberikan ternak sapi 7 ekor 140 kg setiap hari
Sebulan @ 140 x 30 hari → 4,2 ton.
b.Sisa 1800 kg dijual @ Rp. 350,- →
Rp. 630.000,-
Ø
Keuntungan bersih setiap bulan
→
Rp. 75.500,-
DAFTAR PUSTAKA
Basuki, Suwidji. 2005. Optimasi Pola Usaha Tumpang Sari Dengan Program Tujuan Ganda Pada Areal Tananaman Pinus.Bogor. Pusat
Penelitian Sosial Ekonomi Kehutanan dan Perkebunan.http://www.googlecendikia.com
Haryanto,
Budi. 2009. Inovasi Teknologi Pakan
Ternak Dalam Sistem Integrasi Tanaman - Ternak
Bebas Limbah Mendukung Upaya Peningkatan Produksi Daging. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.http://www.googlecendikia,com
Hidayah,ismatul.2010. Integrasi Usahatani Dan Diversifikasi Komoditas Dalam Rangka
Penanggulangan Dampak Keterpurukan Ekonomi Pasca Serangan Hama Kelapa
Aspidiotus.Destructor Di Kecamatan
Kei Besar Kabupaten Maluku Tenggara. Agrika, Volume 4 No.2,
Shinta.2011.Pengembangan
Teknologi Sistem Usahatani
Tanaman-Ternak di Lahan Kering. Prosiding Simposium Penelitian
Tanaman Pangan III. Puslitbang Tanaman Pangan. Balitbangtan Deptan
Sudarman. 2011. Pengaruh empat
faktor produksi dalam penda[atan dalam usaha tani campuran tanaman pakan
dan peternakan ruminansia kecil. Sekolah
tinggi penyyuluhan pertaniaan. Magelang
Soedjana,Tjeppy. 2007. Sistem Usaha Tani Terintegrasi Tanaman-Ternak Sebagai Respons Petani
Terhadap Faktor Risiko.Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Jalan
Raya Pajajaran Kav. E. 59, Bogor 16151